Suci Fauziah's Blog
Rabu, 04 November 2015
Masjid Tarbiyatus Sholihin Berkubah Pengeras Suara
Bandung -- Masjid merupakan tempat yang sangat penting bagi seluruh umat islam. Setiap masjid memiliki keunikannya masing-masing, dan itu menjadi ciri khas dari suatu masjid. Masjid yang dibangun pada tahun 1975 memiliki latar belakang PERSIS, sampai pada tahun 1980 berubah latar belakangnya menjadi NU, karena mayoritas warga sekitar bermazhab Safi’I. Masjid ini sudah bersertifikat waqaf mulai tahun 90-an. Masjid ini pernah mengalami renovasi pada tahun 1994. Adapun dananya bersumber dari para donatur dan sumbangan para warga sekitar.
Berbeda dengan masjid-masjid lainnya, Masjid Tarbiyatus Sholihin memiliki kubah yang berbeda; pengeras suara atau yang biasa disebut speaker sebagai penghias atap masjid. Dulunya speaker ini merupakan speaker utama dan satu-satunya di masjid ini, namun sekitar tahun 2010 speaker ini beralih fungsi hanya sebagai tanda bahwa di sinilah terdapat masjid, karena pada tahun tersebut pengurus masjid membeli empat buah speaker yang baru yang mengarah ke segala penjuru arah.
“Speaker tersebut menjadi napak tilas atau sejarah awal pembangunan masjid" ujar Bapak Acep Dindin Tajudin yang kerap disapa Pak Haji selaku ketua DKM.
Adapun keinginan terbesar Pak Haji adalah adanya perluasan, sehingga masjid memiliki pelataran yang lebih luas untuk tempat pemandian mayat. Dikarenakan padatnya wilayah Inhofftank, seringkali pemandian mayat diadakan di pinggir jalan yang terbuka. “Masa ketika hidup mandi kita ditutupi eh begitu meninggal aurat terbuka sehingga dilihat orang lain” tegasnya. Beliau menuturkan, seharusnya setiap rumah memiliki kamar mandi seluas kamar tidur, agar pemandian mayat tidak dilaksanakan di area terbuka.
Reporter : Suci Fauziah/KPI 3D/1144020180
Mengenalkan Kajian Kitab Kuning Kepada Remaja
Bandung -- Disiplin merupakan hal mendasar yang sulit untuk diterapkan bagi para remaja atau anak baru gede alias ABG. Karena mereka cenderung memiliki kesibukan dan mencari jati dirinya masing-masing. Di era globalisasi ini pondasi agama sangatlah penting diperkenalkan kepada mereka para ABG yang bisa dikatakan masih labil. Oleh sebab itu di Masjid Tarbiyatus Sholihin pada setiap hari sabtu diadakan pengajian rutin yang membahas kitab kuning.
Kitab yang dipakai adalah kitab dasar seperti kitab Safinatun Najah. Pengajian ini dimulai bada ashar sampai pukul lima sore. Namun di era ini, mereka memiliki antusias yang sedikit menurun. “Karena diadakannya hari sabtu, sehingga banyak yang beranggapan waktunya libur, dan kurangnya respon positif dari orang tua murid. Itulah yang menjadi masalah mendasar”ujar Teh Rinrin atau yang akrab disapa Mama Alfi selaku sang pengajar.
Beliau tetap mengajar dengan didorong keikhlasan, meskipun remaja yang datang hanya empat orang dalam satu kali pertemuan. Semoga dengan adanya pengajian ini para remaja dapat mengaplikasikan ilmu yang didapatnya kedalam kehidupan sehari-hari.
Reporter : Suci Fauziah/KPI 3D/1144020180
Membangun Semangat Tahsin Pada Ibu-ibu
Bandung -- Masjid Tarbiyatush Sholihin, Tegalega, rutin melaksanakan pengajian tahsin pada hari sabtu bada dzuhur sampai ashar. Pengajian ini dikhususkan bagi para ibu-ibu sekitar masjid. Walau ada segala kesibukan tiap individu, ibu-ibu tetap antusias dan meluangkan waktunya.
“Semangat menggapai ridha Allah dan berjuang di jalan Allah (10/10/2015).” ungkap H. Acep Dindin Tajudin, S. Ag sang ketua DKM sekaligus pengajar dalam program tahsin.
Menekankan makhroj dan tajwid adalah tujuan mendasar dari program ini. Juga, membangun semangat menuntut ilmu bagi setiap kalangan masyarakat. Didorong dengan pemilihan waktu yang tepat, masyarakat bisa mengisi waktu luang yang biasanya terbuang percuma, sehingga mereka memiliki kesadaran diri untuk mengikuti pengajian ini.
Pengajar mempunyai cara tersendiri; membaca Al-Qur’an bersama kemudian membacanya sendiri-sendiri dan akhirnya mengkaji bersama-sama. Cara ini membuat para ibu tidak merasa di ajarkan, belum lagi diselingi dengan candaan yang membuat pengajian berjalan tidak jenuh. Dan sebelumnya sang ketua DKM harus memperhatikan situasi dan kondisi dari para ibu yang diajarkannya.
Reporter : Suci Fauziah/KPI 3D/1144020180
“Semangat menggapai ridha Allah dan berjuang di jalan Allah (10/10/2015).” ungkap H. Acep Dindin Tajudin, S. Ag sang ketua DKM sekaligus pengajar dalam program tahsin.
Menekankan makhroj dan tajwid adalah tujuan mendasar dari program ini. Juga, membangun semangat menuntut ilmu bagi setiap kalangan masyarakat. Didorong dengan pemilihan waktu yang tepat, masyarakat bisa mengisi waktu luang yang biasanya terbuang percuma, sehingga mereka memiliki kesadaran diri untuk mengikuti pengajian ini.
Pengajar mempunyai cara tersendiri; membaca Al-Qur’an bersama kemudian membacanya sendiri-sendiri dan akhirnya mengkaji bersama-sama. Cara ini membuat para ibu tidak merasa di ajarkan, belum lagi diselingi dengan candaan yang membuat pengajian berjalan tidak jenuh. Dan sebelumnya sang ketua DKM harus memperhatikan situasi dan kondisi dari para ibu yang diajarkannya.
Reporter : Suci Fauziah/KPI 3D/1144020180
Selasa, 03 November 2015
Review K-Drama: Pinocchio
Pinocchio
Judul : Pinocchio / 피노키오
Genre : Romance, Drama, Komedi, Family
Jumlah
Episode : 20 episode
Durasi
: ± 60 menit
Stasiun
TV : SBS
Tahun Produksi : 2014
Pemain
Lee
Jong-suk sebagai Choi Dal-po/Ki Ha-myung
Park
Shin-hye sebagai Choi In-ha
Kim
Young-kwang sebagai Seo Beom-jo
Lee
Yu-bi sebagai Yoon Yoo-rae
Sinopsis
Ki Ha-myung adalah anak kedua
dari seorang ayah yang berprofesi sebagai pemadam kebakaran. Suatu saat ada
sebuah kebakaran hebat di sebuah pabrik yang menewaskan banyak pemadam
kebakaran. Termasuk ayah dari Ki Ha-myung yaitu kepala kru dari kelompok
pemadam kepakaran itu. Sehingga banyak orang yang mencela keluarga tersebut. dan
akhirnya ada salah satu stasiun tv yang melebih-lebihkan cerita kematian dari
ayah Ki Ha-myung. Hingga akhitnya ibu dari Ki Ha-myung mengajak Ki Ha-myung
untuk bunuh diri. Dan terjun ke laut. Tapi akhirnya Ki Ha-myung dapat
menyelamatkan diri, dan diangkat anak oleh seorang kakek di suatu pulau
terpencil. Kakek tersebut memilki sebuah penyakit depresi karena anaknya
meninggal dunia dan menganggap Ki Ha-myung adalah anaknya yang sudah meninggal.
Akhirnya Ki Ha-myung berganti
nama menjadi Cho Dal-po. Ia adalah seroang anak yang pintar namun ia terlihat
seperti orang yang bodoh karena penampilannya yang berantakan dan sifatnya yang
cuek. Kakek tersebut memiliki seorang anak lain dan seorang cucu perempuan yang
seumuran dengan Cho Dal-po. Anak perempuan tersebut bernama Cho In-ha. Ki
Ha-myung dan Cho In-ha bersekolah di sekolah yang sama. Cho in-ha memiliki
sindrom pinochio jadi setiap ia berbohong pasti akan cegukan. Ia ingin menjadi
seorang reporter seperti ibunya. Awalnya Cho Dal-po sangat benci kepada ibunya
Cho In-ha dan kepada semua wartawan. Tapi karena suatu alasan ia justru menjadi
seorang wartawan.
Selamat menonton! :D
Langganan:
Postingan (Atom)



